Tuesday, June 4, 2019

PUISI MELANKOLIS TEMA LEBARAN

LEBARAN


Ada sebuah titik dimana kita semua merasa gembira
tak terkecuali manusia yang paling hina
 di mata tuhan semua manusia itu sama
semua orang berhak untuk mendapat surga-Nya

rasa bahagia karena mampu melewati ujian
dengan pondasi iman dan ketaqwaan
kita mampu menjadi pribadi yang tak lagi sungkan
untuk menjalankan segala amalan kebaikan

ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan euforia
tetapi ia tak mampu menemani sepanjang dimensi semesta
melepaskan iman yang baru saja ditempa
menguji kita apakah bisa terus istiqamah di jalan-Nya

khilaf pasti terjadi di kehidupan 
  diiringi dengan cacian dan diakhiri dengan penyesalan
 tak apa kita masih punya kesempatan untuk saling memaafkan
di hari yang disebut dengan lebaran

gemuruh takbir menggema di angkasa raya
menyembuhkan hati yang pernah terluka oleh ulah manusia
bersalaman seraya meminta maaf dan doa
demi mendapatkan nikmat hidup yang tiada tara

semua rasa melebur menjadi satu
entah mengapa air mata tiba tiba keluar tanpa perintahku
seakan menyadarkanku atas segala dosa dosa ku
semoga saja tuhan masih mau mengampuniku



Wednesday, April 10, 2019

SEBUAH PUISI YANG MAMPU MENYAYAT HATI



CINTA YANG BERMAKNA

Saat kau bicara tentang cinta
Disitulah muncul rasa bahagia
Bagaikan sore hari yang ditemani senja
Hampa terasa jika hidup tanpa cinta
 
Cinta.......
Satu kata berjuta makna
Rasa yang mampu membangkitkan asa
Membangkitkan semangat di dalam dada
 
Cinta mampu melahirkan canda
Menghapus duka yang ada di muka
Mengobati luka pada jiwa
Melahirkan kasih pada sesama
 
Tetapi cinta kadang berubah menjadi dusta
Menambah luka yang kian terbuka
 Melahirkan kebencian yang semakin membara
Mengubur mimpi masa masa remaja

Berbeda dengan cinta masa dewasa
Dimana sudah terbiasa dengan kata kata dusta
Tak ada lagi kata putus asa
Yang ada hanyalah panggung sandiwara
 
Jangan berbuat semena- mena atas nama cinta
 Karena pasti ada hati yang terluka
Cukup berjalan bersama di atas cinta
Maka kau akan bahagia selamanya
 
 
 
Oleh:Fraditya Balfis Abdillah